Senin, 19 September 2011

HRCj 025 Tips


Klub VS Komunitas, Antara Independen dan Aturan Rigid


Klub mengasah rasa empati dan belajar berorganisasi
Manusia makhluk sosial. Biker itu manusia, jadinya mereka makhluk sosial. Supaya nyaman bersosialisasi dengan sesama rider, ada tiga pilihan utama. Pertama tetap bebas dan ogah terikat atau independen, non-colors atau ikut komunitas.

Mereka yang ingin masuk dalam lingkar dalam sebuah perkumpulan dan mematuhi peraturan intern, pastinya akan memilih masuk klub. Romantisme antara komunitas dan klub tentunya berbeda. Brothers yang aktif di komunitas dan klub angkat bicara. Ada perbedaan mendasar antara kedua wadah sosialisasi ini.

Indra Panca, salah satu pendiri Tiger Association Bandung (TAB) juga Dewan Penasehat PP-Honda Tiger Club Indonesia (HTCI) dan Indra ‘Bluesmann’ Pranajaya, SS Diponegoro, sebagai salah satu pendiri Bikers Brotherhood MC (BBMC) urun rembug.

Indra Panca membuka pembicaraan dengan keuntungan masuk klub  dengan makin menambah teman sehobi dan relasi. “Juga makin banyaknya pengalaman bersosialisasi dan beroganisasi,” jelasnya.

Sedang Indra Bluesmann memulainya dengan kesadaran dari settiap individu untuk memilih antara klub dan komunitas. ”Itu pilihan individu. Sebelum masuk klub mereka sudah memikirkan risiko dan konsekwensi dan akibat yang bakal dihadapi,” jelas Staatsman BBMC Divisi Pengembangan Potensi dan Quality Control Design Bikers Brotherhood ini.

Baginya, keuntungan seorang  biker masuk klub menjadikan klub sebagai wadah untuk bersosialisasi, belajar berorganisasi, empati sekaligus belajar tentang motor yang dikendarainya.

“Di sisi lain ada kerugiannya juga jika tuntutan dari klub dan membagi waktu antara kehidupan klub dan pribadi, masalah loyalitas dan influence klub yang berpengaruh pada pribadi mereka,” serius Indra. Hal ini disepakati oleh Ariel Bocah dari Rebel Bastard MC.

Komunitas. Lebih longgar dan tidak terikat peraturan
Faktanya nggak cuma wadah klub yang dipilih oleh beberapa biker. Banyak di antara mereka lebih enjoy gabung di komunitas. Komentar datang dari Philip Chaos. “Lebih santai tidak terikat peraturan intern seperti di klub. Komunitas lebih terbuka siapapun dan darimanapun bisa gabung selama dia menyukai motor. Kalau soal kekurangan dibanding klub, sulit menjawabnya, soalnya yang bersangkutan harus merasakan sendiri,” jelasnya diplomatis.

Soal ini, Bro Indra Bluesmann yang juga hobi nongkrong di beberapa komunitas memberi pandangan. ”Komunitas memang lebih fleksibel karena bukan life member. Besok lusa jika yang bersangkutan punya hobi atau mainan baru, ia gampang saja berpindah komunitas,” jelasnya.

Untuk itu, biker silakan memilih, klub, komunitas atau tetap independen. Yang penting konsekwen dan tetap menjunjung tinggi nilsi persaudaraan antar sesama two wheeler.

Bukan begitu, Bro?  

Kamis, 15 September 2011

Safety Riding

Teknik Berkendara Salah Bikin Boros Komponen


 Sesuaikan cara bawa dengan putaran mesin
Kerusakan komponen bukan semata dari motor. Tapi bisa juga disebabkan teknik atau tactics berkendara yang salah. Efeknya, mempercepat usia komponen sampai kerusakan fatal di beberapa bagian mesin.

“Kerja mesin menjadi lebih berat. Komponen aus,” ungkap M. Subhan, Manager Technical Service Division dari PT Astra Honda Motor (AHM).

Tengok komponen yang berisiko aus dan cepat rusak karena teknik berkendara salah kaprah. “Tactics berkendara yang jelak bisa mempercepat usia pakai sampai lebih 10 per- sen masa pemakaian normal,” kata Toni Purnama, Head Instruktur Safety Riding from PT Wahana Makmur Sejati.

Misalnya, perlakuan pada saat lampu merah posisi gigi tertinggi. Ketika masuk lampu hijau, pengendara langsung tancap gas. Akibatnya karena putaran mesin tidak sesuai dengan perbandingan gigi. “Pembakaran mejadi enggak sempurna. Mesin belum mencapai putaran ideal. Akhirnya banyak kerak menumpuk. Ini akan mempercepat gejala ngelitik. Efeknya ke piston,” kata M. Subhan

Kondisi seperti ini bisa merembet ke kampas kopling. Beban yang berat bikin gesekan antara pelat dan kampas berlebihan. Juga dapat mengakibatkan rantai jadi mudah aus. Hentakan keras karena tidak seimbangnya antara torsi dan kecepatan.

Ada juga kebiasaan memindahkan gigi tinggi langsung ke gigi rendah. Akibatnya ada hentakan besar terus menerus. Dampaknya, bikin rantai keteng dan klep aus.

Secara enggak sadar, kaki menginjak tuas rem belakang. Berarti kampas rem terus bergesekan dengan teromol. Begitu juga arus dari aki yang akan terus bekerja secara otomatis menyalakan lampu rem belakang. Akhirnya aki tekor dan bisa jadi teromol hangus karena diajak bergesekan terus.

Ada juga kebiasaan seenaknya melibas jalan keriting atau polisi tidur. Beban berlawanan mengagetkan langsung diterima sokbreker. “Ini fatal. Usia sok jadi pendek,” tambah Made Surya, Instruktur Safety Riding AHM.

Cara bawa dengan gas dientak dan pengereman keras, juga bisa bikin gesekan antara aspal dan ban jadi lebih kuat. Gaya seperti ini bikin kompon dan alur ban cepat habis.

Senin, 12 September 2011

Apa itu safety riding....?

Safety Riding.. Apaan sih?




Kondisi seperti saat ini membuat sepeda motor menjadi pilihan paling praktis dan ekonomis sebagai alat transportasi baik pribadi maupun keluarga.
Kemampuan melalui jalan yang relatif kecil (selap selip) seakan membuat motor menjadi kendaraan ‘bebas macet’ dan efektif, sementara itu juga konsumsi BBM yang sangat irit membuat kendaraan ini sangatlah ekonomis.
Namun sayang juga ketika demikian mudahnya memperoleh sepeda motor, tetapi tidak dibarengi dengan kesadaran untuk belajar berkendara dengan baik dan aman. Masih banyak kita lihat orang mengendarai motor dengan sekencang-kencangnya, atau sangat lambat dan lain-lain yang membahayakan dirinya juga orang lain disekitarnya.
Menurut survey tim safety riding course, lebih dari 50% kecelakaan sepeda motor disebabkan oleh faktor manusia itu sendiri, selain faktor kendaraan dan lingkungan.
Mungkin disinilah perlunya kita ikut suatu klub motor. Apakah itu klub motor sejenis maupun klub motor berbagai merek, yang penting adalah klub yang bisa membina kita menjadi bikers yang baik dan tertib.
Klub motor yang baik salah satunya adalah klub yang peduli dengan keselamatan dan keamanan berkendara.
Beberapa klub yang saya kenal, melakukan acara khusus untuk melatih dan memberi pencerahan tentang keselamatan dan keamanan berkendara. Bahkan untuk menggelar acara tersebut dilibatkan juga beberapa vendor sebagai sponsor, yang artinya semua sepakat akan pentingnya keselamatan.
Safety Riding ! Sama halnya dengan istilah Safety Driving bagi pengguna mobil, istilah Safety Riding mengacu kepada perilaku berkendara yang secara ideal harus memiliki tingkat keamanan yang cukup bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam pelatihan Safety Riding, disajikan dalam teori dan praktek.
Umumnya dalam teori dijelaskan seputar keselamatan berkendara, pentingnya pemanasan tubuh saat hendak berkendara, kesiapan kendaraan, posisi berkendara yang ideal, dan lain-lain.
Kesiapan berkendara yang diperlukan untuk sepeda motor antara lain:
  • Sarung Tangan, sebaiknya memiliki lapisan yang dapat menutupi kedua belah tangan dan bahan yang dapat menyerap keringat serta tidak licin saat memegang grip/handle motor.
  • Jaket, sebaiknya mampu melindungi seluruh bagian tubuh baik dari terpaan angin maupun efek negatif kala terjadi benturan baik kecil maupun besar.
  • Helm (minimal Half Face), sebaiknya mampu memberikan proteksi lebih kepada kepala, poin inilah yang selalu dilewatkan oleh tipikal bikers pengguna helm ‘catok’ dan sejenisnya.
  • Sepatu, haruslah mampu memberikan kenyamanan serta keamanan bagi seluruh lapisan kaki.
Secara umum untuk pelatihan praktek Safety Riding diajarkan:
-Teknik pengereman dengan hanya mengandalkan rem depan, rem belakang, dan kombinasi keduanya. Teknik ini untuk membiasakan bikers untuk membedakan fungsi dua sisi rem saat hendak berhenti ber-akselerasi.

-Teknik “slalom” dengan cone di lintasan. Teknik ini untuk melihat kemampuan peserta menikung dengan cepat dari sisi kiri ke kanan dan sebaliknya dengan asumsi kendaraan sedang src=”http://www.saft7.com/techtips/safetyriding/safetyriding-03.jpg” />
-Teknik berjalan di lintasan ala “bumpy-road” , teknik ini untuk membiasakan bikers untuk memberi kenyamanan saat jalan tidak mulus atau bergelombang.

-Teknik berkendara di lintasan lurus dan sempit berupa bilah dengan asumsi kendaraan berjalan di jalan kecil dan diliputi kemacetan. Teknik ini untuk membiasakan diri bagi bikers untuk tetap dapat melakukan handling tanpa menurunkan kaki dalam kecepatan rendah.

Perangkat keamanan semacam decker lutut dan siku plus helm menjadi wajib untuk peserta pelatihan Safety Riding.
Dari materi-materi seperti inilah diharapkan muncul niatan dari para pengendara untuk membiasakan diri sendiri memberi upaya keselamatan berkendara. Gampang-gampang susah, itu ternyata pendapat yang muncul di benak peserta setelah semua sesi praktek dilapangan dilakukan.
Dari sekian banyak poin yang dipelajari peserta semua memiliki arti masing-masing dengan kesimpulan bahwa keselamatan berkendara amatlah dibutuhkan untuk mengurangi angka kecelakaan dijalan. Ya ! Semua dimulai dari diri sendiri, alangkah baiknya jika hasil kursus singkat ini dapat dibagi dengan rekan-rekan lain sesama pengendara.
Buktikan bahwa kita mampu berkendara dengan baik, tidak sembrono, tidak ugal-ugalan, patuh lalu-lintas, dan menghormati sesama pengguna jalan serta memberi contoh positif kepada sesama pengguna jalan.
Safety is Everything bro !

Minggu, 11 September 2011

Safety Riding

Pakailah "Berpikir Positif" Saat Berkendara

Saya yakin, semua orang yang pernah turun kejalan pasti pernah rasakan. Kesal, jengkel, sebal dan lain sebagainya terhadap pengendara motor/mobil lain yang kita rasakan tidak tahu diri, tidak bertanggung jawab dan seterusnya.
Yah, begitulah perasaan kita terhadap orang-orang itu. Kena pepet, jalur dimakan, jalur dipotong jelas saja akan membuat kita habis kesabaran dan membuat stress. Tak jarang menjadikan kita lupa tujuan utama kita berkendara, untuk sampai dan tiba di tujuan dengan selamat. Kebut-kebutan, sumpah serapah hingga terkadang sampai ngajak berkelahi.
Tapi tunggu dulu. Coba kita fikirkan lagi. “Apakah anda kenal mereka secara pribadi ? Apakah anda layak untuk marah-marah ? Tidak rugi buang-buang emosi ?”.
Contohnya, … sebut saja Pak Rustam.
Pak Rustam sudah menjadi supir perusahaan selama 30 tahun. Beliau orang yang sangat menyenangkan, ramah, bertutur kata santun dan banyak temannya. Ia orang yang sederhana dan rajin ibadah serta siapapun yang berkenalan dengannya akan dengan sangat mudah menjadi akrab.
Karena sebuah keperluan, beliau hendak mengantarkan tamu perusahaan ke hotel dan dalam perjalanan berpapasan dengan motor anda. Karena menghindari sepeda, mobil Pak Rustam bermanuver dan hampir menabrak motor anda.
Apa reaksi anda ?
Amarah yang meluap memuntahkan sumpah serapah kearah pengendara mobil ? Memang anda hampir celaka, tapi apakah itu sebuah kesengajaan ? Apakah Pak Rustam pantas mendapatkan sumpah serapah itu ? Apakah memberikan sumpah-serapah itu bisa membawa perubahan ? membawa kegunaan bagi anda  ? bagi Pak Rustam ?
Sekarang, apa bila anda mengenal Pak Rustam secara pribadi, apakah anda tetap ingin mencaci maki ? Iya sih…, mereka memang terkadang membahayakan anda, dan anda-pun kadang membahayakan orang lain, namun coba anda berfikir dengan positif;
  1. Mereka mungkin berkendara dengan sedikit ceroboh, sebenarnya mereka tidak ingin ceroboh.
  2. Mereka sebenarnya orang-orang yang menyenangkan dan bersahabat, kalau saja saya mengenal mereka.
  3. Mungkin bisa saja saya lah yang membahayakan mereka saat itu, hanya saja saya tidak memikirkannya.
  4. “Shit Happens”, karenanya Saya lah yang seharusnya lebih berhati-hati.
  5. Saya tidak bisa mengendalikan cara orang lain berkendara, tapi saya bisa mengedalikan cara saya sendiri berkendara.
  6. Mereka sebenarnya berusaha sebaik-baiknya, seperti halnya saya.
Apa bila anda berfikir negatif ;
  1. Mereka semua orang-orang goblok, jadi wajar saja kalau saya teriak “GOBLOK LUH”. Saya kan orang pintar disini.
  2. Mereka semua pastilah orang-orang tidak menyenangkan, suka masuk jalur orang se-enaknya, potong jalur orang seudelnya.
  3. Saya selalu benar, posisi saya benar dan saya berhak dalam posisi itu, mereka lah yang harusnya “minggir”.
  4. Semua yang melanggar jalur saya adalah Salah !
  5. Cara saya berkendara sudah benar, cara kamu lah yang salah.
  6. Saya sudah melakukan sebaik-baiknya, mereka semualah yang berkendara gak pakai otak.
Sekarang, apakah anda mau berfikir positif atau negatif ?
Mungkin pertanyaan-nya adalah “Kenapa saya harus berfikir Positif ? Kenapa Negatif ?”
  1. Dengan berfikir positif, anda akan dapat berfikir lebih jernih dan jauh kedepan. Anda menjadi lebih tenang dalam menghadapi perjalanan. Berfikir negatif membuat anda berfikir yang tidak-tidak dan menjadi lebih emosional.
  2. Berfikir positif menjadikan perjalanan anda selalu menyenangkan dan setiba di tujuan anda menjadi lebih lega. Berfikir negatif menjadikan perjalanan anda tidak nyaman dan menyebalkan.
  3. Berfikir positif menjadikan anda lebih sadar akan keselamatan karena berusaha mencegah terulangnya kembali kejadian-kejadian yang membahayakan anda. Berfikir negatif membangkitkan emosi, tidak lagi berfikir jernih dan menjadikan perjalanan anda menjadi lebih berbahaya.
  4. Dengan berfikir positif, anda memanjakan perasaan anda sendiri, dengan berfikir negatif anda hanya menyiksa perasaan anda.
Perasaan anda mahal harganya. Banyak orang mau mengeluarkan uang berjuta-juta hanya untuk mendapatkan suasana hati yang tenang dan menyenangkan. Sekarang, buat apa anda merusak suasana hati untuk hal-hal sepele ? “Its Not Worth It”.
Kalau saya berpapasan dengan Pak Rustam, dan motor saya hampir bersinggungan dengan mobil beliau karena mobil beliau masuk jalur saya tiba-tiba, maka yang akan saya lakukan adalah membuka kaca helm dan tersenyum. Saya akan memikirkan bahwa si supir sebenarnya orang yang menyenangkan kalau saja saya bisa mengenalnya, mereka juga punya keluarga yang menyenangkan. Dan saya akan lebih berhati-hati lagi kalau naik motor. Maka hari itu akan tetap menyenangkan dan perasaan tersebut mahal harganya, jangan sampai rusak.
“Positive Thinking” adalah salah satu SKILL yang tidak bisa anda dapatkan dari kursus manapun. Membutuhkan kebesaran jiwa, kematangan berfikir dan kesabaran. Mulai lah melatih SKILL yang satu ini.

Safety Riding